Oleh : Dr. Ardiansyah Rakhmadi Lc, MSI

Pembahasan tentang MLM dalam tulisan ini terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama, membahas tentang MLM berdasarkan tinjauan bahasa. Bagian kedua, membahas MLM berdasarkan tinjauan definisi khusus. Bagian ketiga, membahas hukum MLM berdasarkan pandangan syariah.

A. MLM Berdasarkan Tinjauan Bahasa

Secara bahasa, multi level marketing adalah mekanisme penjualan suatu barang secara berjenjang dari seorang produsen kepada distributornya hingga ke level pembeli atau konsumen akhir. Jika dilihat dari definisi ini, maka dapat dikatakan bahwa banyak produsen di dunia usaha menggunakan metode multi level marketing dalam penjualan produknya.

Sebagai contoh, produsen A. Produsen A menjual barangnya kepada distributor di level pertama, yaitu di tingkat propinsi. Jika terdapat 34 propinsi di Indonesia, maka akan terdapat 34 distributor berada dibawah produsen secara langsung. Kemudian 34 distributor level pertama di tingkat propinsi akan menjual barang produsen A kembali kepada distributor yang berada dibawahnya ditingkat kabupaten (level 2). Jika di Indonesia terdapat 415 kabupaten, maka akan terdapat 415 distributor level 2 yang sebarannya bergantung pada jumlah kabupaten yang ada dibawah propinsi. Berikutnya, distributor level 2 akan menjual kembali kepada distributor ditingkat kecamatan (level 3). Jumlah distributor level 3 tentunya akan lebih banyak dibanding jumlah distributor yang berada diatasnya. Selanjutnya, distributor level 3 menjual barang produsen A kepada pembeli atau konsumsen akhir, yaitu masyarakat.

Apabila kita perhatikan, pola pemasaran diatas akan berbentuk piramida, namun bukan sebagaimana piramida dalam konsep money game.

Adapun untuk skala kecil rumah tangga, seorang produsen seringkali menjual barangnya secara langsung kepada pembeli akhir, tanpa diperantarai oleh distributor. Misalnya, seseorang yang memproduksi makanan kecil yang kemudian dijual langsung kepada tetangganya. Penjualan langsung ini biasa pula digunakan dalam jenis-jenis usaha tertentu, seperti jasa pembuatan barang yang didasarkan pada pesanan atau order.

Antara Omzet Produsen dan Para Distributor

Apabila dilihat dari total nilai omzet per individunya dalam pemasaran berjenjang, siapakah diantara jenjang atau level marketing yang paling besar omzetnya? Produsen, distributor level 1, level 2, atau level 3? Jawabannya sudah pasti produsen. Urutan berikutnya adalah distributor level 1, kemudian distributor level 2 dan terakhir ialah distributor level 3. Pola ini terjadi karena semakin ke atas, jumlah distributor pada setiap levelnya hingga kepada produsen akan semakin sedikit, dan tidak dikategorikan sebagai tindakan yang eksploitatif karena:

1. Tindakan eksploitatif dalam pekerjaan adalah perlakuan seseorang terhadap pihak lain yang berada dibawahnya secara tidak adil dan merugikan, semata-mata untuk kepentingan pribadinya. Sementara dalam pola diatas, masing-masing pihak mendapatkan haknya sesuai dengan kewajiban yang harus dilakukan, yaitu penjualan produk.

2. Pola diatas terjadi melalui akad jual beli.

3. Didasarkan pada kerelaan masing-masing pihak.

4. Tidak ada mekanisme yang mengunci terkait potensi pendapatan, karena sifatnya terbuka. Distributor level 3, jika ingin mendapatkan omset lebih besar, bisa naik menjadi level 2 atau level 1 dengan upayanya. Bahkan ia bisa pula menjadi seorang produsen yang sama sebagai kompetitor.

Hal ini berbeda dengan sistem piramida dalam konsep money game, sebab:

1. Money game adalah permainan zero-sum game, dimana seseorang akan untung ketika pihak lain yang menjadi lawan mengalami kerugian.

2. Money game dengan sistem piramida, tidak didasarkan pada transaksi jual beli. Kalaupun melalui jual beli, barang yang menjadi obyek jual beli adalah barang yang sebenarnya tidak memiliki value sebagaimana yang ditransaksikan. Dengan demikian, dalam sistem ini, jual beli bukanlah menjadi transaksi yang utama.

3. Transaksi utama dalam praktik money game dengan sistem piramida didasarkan pada setoran uang dari seseorang yang masuk bergabung ke dalam sistem piramida tanpa memiliki landasan akad yang jelas. Setoran tersebut akan menjadi keuntungan bagi pihak yang berada diatasnya. Demikian seterusnya.

4. Money game berbasis piramida mempunyai sifat tetutup karena seseorang tidak akan bisa mengambil keuntungan kecuali harus bermain di dalam sistem tersebut. Disamping itu, posisi seseorang dalam level tertentu akan terkunci. Jika A berada diatas B, maka B tidak akan pernah melampaui A.

Berbeda dengan piramida jaringan distribusi biasa. Dalam piramida jaringan distribusi biasa, seseorang dapat dengan bebas mengambil keuntungan dalam arti memiliki pilihan untuk menjual barang apapun sesuai yang diinginkan untuk mengambil keuntungan, dengan syarat halal. Kemudian, posisi seorang distributor atau pemasar tidak akan terkunci. Jika hari ini A memiliki omset lebih besar dari B, maka keesokan harinya omset B bisa lebih besar jika nilai penjualannya melampaui A. Selain itu, seseorang yang berada pada level distribusi paling bawah, bisa naik ke level diatasnya dengan cara menaikkan omset penjualannya.

B.  MLM Berdasarkan Tinjauan Istilah/ Definisi Khusus

Istilah multi level marketing (MLM) atau penjualan dengan sistem berjenjang, saat ini telah memiliki pengertian yang khusus. Jika didasarkan pada penjelasan yang diberikan oleh Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI) dan Word Federation of Direct Selling Association (WFDSA), dalam definisi khusus, dapat disimpulkan bahwa MLM adalah sistem penjualan langsung (direct selling) atas barang atau jasa oleh para distributornya melalui perekrutan (member get member) secara berjenjang. Pengertian ini membedakan antara MLM sebagai salah satu bentuk dari direct selling yang berjenjang, dengan single level marketing (SLM) yang juga berbasis perekrutan (member get member) dan direct selling.

Adapun sistem direct selling atau sistem penjualan langsung ialah sistem penjualan barang dan jasa secara tatap muka atau face to face oleh para distributornya melalui perekrutan (member get member) diluar lokasi penjualan ritel yang bersifat permanen (fixed retail location). Ciri-ciri dari sistem penjualan langsung adalah sebagai berikut:

1. Penjualan dilakukan oleh para distributor secara langsung atau tatap muka. Saat ini dapat pula melalui online.

2. Dalam sistem penjualan langsung, distributor dapat merekrut distributor lainnya (member get member) dengan imbalan atau tanpa imbalan.

3. Seluruh distributor dalam sistem penjualan langsung, terdaftar pada produsen atau satu perusahaan yang menaungi dan mendapatkan bonus dari perusahaan tersebut berdasarkan pada hasil penjualan barang atau jasa yang berhasil dilakukan oleh seorang distributor secara individual maupun kelompoknya.

Dengan demikian, terdapat perbedaan antara sistem penjualan direct selling, baik single level maupun multi level, dengan penjualan ritel biasa. Pada penjualan ritel biasa:

1. Umumnya penjualan barang dilakukan melalui tempat permanen dalam bentuk outlet, toko, swalayan atau yang sejenisnya. Dengan adanya teknologi, tempat permanen tersebut berubah dari tempat fisik menjadi bersifat online.

2. Penjualan ritel biasa tidak menggunakan sistem perekrutan distributor (member get member).

3. Tidak seluruh distributor tercatat pada produsen atau satu perusahaan yang menaungi.

4. Keuntungan seorang peritel hanya didasarkan pada omset penjualan pribadi/ individual.

Penggunaan Skema Piramida Dalam Konsep Pemasaran Ritel, Pemasaran Langsung Berjenjang (MLM) dan Praktik Money Game

Pada pembahasan pertama telah dibahas bahwa dalam konsep pemasaran ritel, skema piramida sebenarnya juga digunakan, dalam arti, semakin ke level bawah, jumlah distributor akan semakin banyak, dan sebaliknya, semakin ke atas (ke arah produsen), jumlah distributor akan semakin sedikit. Pola pemasaran seperti ini dilakukan oleh produsen untuk mengatur alur distribusi agar tidak terjadi persaingan pasar secara tidak sehat, khususnya di level distributor besar. Sehingga, sebagaimana telah dijelaskan, skema piramida pada pemasaran ritel berbeda dengan skema piramida yang ada pada praktik money game.

Secara umum, konsep piramida dalam berbagai macam bentuknya yang berbeda-beda, diterapkan untuk beberapa tujuan sesuai dengan bentuk yang digunakan, yaitu:

1) Pemasaran secara ritel.
2) Pemasaran secara MLM.
3) Money game berbasis product-based.
4) Money game berbasis naked-pyramid

Tetapi perlu digarisbawahi bahwa istilah skema piramida, dalam dunia ekonomi sering diistilahkan secara khusus untuk konsep money game, baik yang berbasis naked-pyramid maupun product-based pyramid.

Dalam pembahasan ini, sebelum masuk pada pembahasan tentang skema piramida dalam MLM, akan kita bahas terlebih dahulu skema piramida dalam money game yang berbentuk naked-pyramid dan product-based pyramid.

Naked-Pyramid dan Product-Based Pyramid

Naked-pyramid merupakan skema money game dimana seseorang diiming-imingi keuntungan yang besar untuk bergabung dalam sebuah jaringan, dengan syarat, orang tersebut harus membayar sejumlah uang tertentu dan harus mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama. Keuntungan bagi seseorang yang telah bergabung akan diambilkan dari uang pembayaran yang dibayar oleh seseorang yang lain yang berhasil ia ajak untuk bergabung. Semakin banyak jaringan perekrutan yang berada dibawahnya, akan semakin besar pula keuntungannya. Dalam konsep naked-pyramid, tidak terdapat barang atau jasa yang diperjualbelikan dan ini termasuk ke dalam bentuk perjudian.

Sedangkan product-based pyramid merupakan skema piramida sebagaimana naked-pyramid, hanya saja terdapat barang yang menjadi underlying-nya. Namun, barang yang menjadi obyek dari transaksi adalah barang yang tidak mempunyai nilai yang sesungguhnya atau barang yang tidak mempunyai manfaat yang jelas. Oleh sebab itu, dalam skema product-based pyramid, keberadaan produk sebenarnya hanya sebagai sebuah kedok atau alat kamuflase sehingga termasuk pula ke dalam bentuk perjudian terselubung.

Mungkin kita masih ingat kasus Gold Quest. Gold Quest adalah praktek money game dalam bentuk product-based pyramid yang menjadikan koin emas sebagai underlyingnya. Untuk bergabung dalam Gold Quest, kita diharuskan untuk membeli koin emasnya yang satu koinnya bisa berharga 8 juta. Padahal jika dilihat secara fisik emasnya, nilainya jauh lebih kecil daripada itu.

Kemudian baru-baru ini di luar negeri juga sedang ramai tentang “the Blessing Loom”, sebuah nama dari money game yang berbentuk naked-pyramid. Tidak ada barang atau jasa yang diperjualbelikan, namun seseorang diberikan iming-iming bahwa jika ia melakukan perekrutan terhadap orang lain untuk bergabung di dalam sistem dengan cara membayar, maka setelah merekrut sejumlah orang tertentu ia akan mendapatkan bayaran bonus yang besar. Demikian pula orang yang berada dibawahnya akan didorong untuk melakukan perekrutan pula. Ajakan bergabung ini menggunakan media sosial sebagai sarana pengirim pesannya.

Skema Piramida Dalam MLM

Skema piramida digunakan oleh perusahaan MLM sebagai model perhitungan untuk pemberian bonus bagi para distributornya (compensation plan) yang terdiri dari berbagai macam bentuk. Terdapat 4 bentuk pendapatan yang secara umum ditawarkan oleh sebuah perusahaan MLM kepada para distributornya, meskipun pada praktiknya boleh jadi antar MLM akan berbeda-beda, yaitu:

1. Pendapatan dari hasil penjualan langsung kepada konsumen akhir.

2. Bonus perekrutan distributor atau downline baru.

3. Bonus pembinaan grup (dengan berbagai macam nama dan variasi/ versi).

4. Saham perusahaan.

Kemudian, bentuk skema piramida yang sering digunakan sebagai dasar perhitungan bonus dari perusahaan MLM ialah:

1) Unilevel system

Sistem unilevel adalah model perhitungan bonus dimana seluruh distributor (downline) yang direkrut oleh seseorang (upline) akan ditempatkan di bawah upline tersebut secara langsung dalam satu level tanpa batas. Apabila downline tersebut melakukan perekrutan kembali, maka seluruh distributor hasil perekrutannya akan ditempatkan dalam satu level berikutnya di bawah downline tersebut. Demikian seterusnya sampai pada level tertentu.

Dalam sistem unilevel, bonus pembinaan yang diberikan oleh perusahaan bagi seorang upline kepada downline nya dalam satu grup dihitung secara horizontal dari total omset individual downline tanpa batas namun untuk vertikalnya dibatasi, misal hanya 5 level kebawah. Semakin ke level bawah, persentase bonus untuk seorang upline akan menjadi lebih kecil.

Ketika jumlah level secara vertikal sudah mencapai limit, maka tatkala ada seorang downline aktif melakukan perekrutan ditributor, secara otomatis akan terbentuk piramida baru bagi downline tersebut dan terpisah dari upline sebelumnya.

Contoh:

A melakukan perekrutan terhadap B, C, D, E, F, maka, B, C, D, E, dan F akan ditempatkan posisinya dibawah A secara langsung. Jika B melakukan perekrutan terhadap G, H, I, J, K, dan L, maka G, H, I, J, K dan L akan ditempatkan posisinya dibawah B. Hitungan satu grup bagi upline A adalah satu level dibawah A secara horizontal tanpa batas, dan tiga level (misalnya) di bawah A secara vertikal. Jumlah level secara vertikal yang dihitung sebagai satu grup bagi A, tergantung dari kebijakan perusahaan. Semakin ke level bawah, persentase bonus bagi A akan semakin kecil. Apabila digambar dalam bentuk piramida, bentuk piramidanya cenderung tidak tinggi dan melebar kesamping.

2) Matrix system

Dalam sistem matrix, bonus pembinaan yang diberikan oleh perusahaan bagi seorang upline dihitung secara horizontal dari total omset individual dowline dengan adanya batasan. Demikian pula untuk vertikalnya, terdapat pembatasan jumlah level.

Misal, jika dalam satu level pertama dibawah upline secara horizontal dibatasi 5 distributor, dan secara vertikal dibawah upline dibatasi hanya 3 level, maka perhitungannya dalam 1 grup akan sebagai berikut:

Level 1 (upline paling atas) = 1 distributor
Level 2 = 5 distributor
Level 3 = 25 distributor (asumsi masing-masing distributor diatasnya memiliki 5 downline)
Level 4 = 125 distributor (asumsi sama)

Dengan asumsi diatas, maka Upline tertinggi dalam satu group akan memiliki 5+25+125=155 downline. Jika Upline tertinggi akan mendapatkan bonus pembinaan sebesar 5% dari omset per masing-masing downline, dengan asumsi masing-masing downline menghasilkan omset sebesar 5 juga rupiah, maka bonus yang akan diterima Upline tertinggi ialah sebesar (155 x 5 juta) x 5% = 38.750.000.

3) Binary system

Sistem binary adalah model perhitungan bonus dimana seluruh distributor (downline) yang direkrut oleh seseorang (upline) akan ditempatkan di bawah orang tersebut dalam satu level dibatasi maksimal hanya 2 distributor. Oleh karena itu, jika seorang upline berhasil merekrut 3 orang downline (misalnya B, C, D) maka si D akan ditempatkan dibawah B. Demikian pula untuk vertikalnya, terdapat pembatasan jumlah level.

Potensi Piramida MLM Mengandung Unsur Piramida Money Game

Sistem piramida MLM berpotensi akan mengandung unsur piramida money game ketika:

a. Perhitungan bonus bagi para upline bertumpu pada uang pendaftaran yang dibayarkan oleh para downline nya pada saat bergabung.

b. Secara perhitungan, total bonus yang diberikan oleh perusahaan MLM lebih besar dari total omset penjualan barang perusahaan MLM. Hal ini terjadi karena model perhitungan bonusnya bertumpu pada uang pendaftaran anggota.

c. Pendapatan utama perusahaan MLM berasal dari pendaftaran anggotanya, sehingga penjualan barang menjadi sesuatu yang tidak primer.

d. Harga barang yang dijual jauh diatas nilai dan manfaat barang yang sesungguhnya, jika dibandingkan dengan harga pasarannya.

Potensi Permasalahan Terkait Etika Pemasaran Dalam sistem MLM

Beberapa potensi masalah terkait etika dalam pemasaran melalui sistem MLM diantaranya adalah sebagai berikut:

1) Tercampurnya paradigma money game dengan paradigma MLM sebagai entitas bisnis di sektor riil, sehingga pada saat distributor sedang melakukan upaya perekrutan downline atau distributor baru, distributor tersebut mengatakan bahwa dalam bisnis MLM ini tidak perlu melakukan penjualan produk karena yang paling terpenting adalah merekrut downline baru. Hal yang ingin ditonjolkan adalah bahwa menjual produk dalam sebuah MLM adalah hal yang buruk. Hal yang paling baik untuk dilakukan adalah melakukan perekrutan.

2) Pada saat melakukan pemasaran, seorang distributor tidak pernah berbicara tentang produk, namun hanya berbicara tentang seberapa besar bonus yang dapat diterima, berikut dengan reward yang mewah lainnya jika seseorang yang diprospek bersedia untuk bergabung ke dalam MLM tersebut.

3) Pada saat melakukan pemasaran, lebih banyak berbicara tentang support system, jenjang karir dan compensation plan daripada berbicara tentang produk.

4) Melakukan klaim dalam pemasaran sebagai iming-iming kepada calon distributor baru bahwa MLM adalah cara mudah dan cepat untuk menjadi kaya.

C. MLM Dalam Tinjauan Syariah

Terkait dengan hukum MLM (secara istilah/ definitif) dari sudut pandang syariah, saat ini terdapat dua pendapat dalam bentuk fatwa bersama dari para ulama. Pendapat pertama, mengharamkan MLM, dan pendapat kedua menghalalkan dengan adanya syarat-syarat tertentu.

1. Fatwa yang mengharamkan:

Fatwa yang mengharamkan diantaranya dikeluarkan oleh Mujamma’ Al-Fiqh Al-Islami Sudan, Lajnah Fatwa Yordania, Dar Al-Ifta’ Mesir, Al-Lajnah Ad-Da`imah Saudi Arabia dan Dar Ifta’ Palestina serta Idarah Ad-Da’wah wa Al-Irsyad Ad-Dini Qatar (aliftaa).

Berdasarkan fatwa-fatwa yang dikeluarkan, ada 4 poin yang menyebabkan sistem MLM bersifat haram. 4 poin tersebut terangkum dalam fatwa yang dikeluarkan oleh Idarah Ad-Da’wah wa Al-Irsyad Ad-Dini Qatar, sebagaimana berikut:

أولاً: أنها تضمنت الربا بنوعيه، ربا الفضل وربا النسيئة، فالمشترك يدفع مبلغاً قليلاً من المال ليحصل على مبلغ كبير منه، فهي نقود بنقود مع التفاضل والتأخير، وهذا هو الربا المحرم بالنص والإجماع، والمنتج الذي تبيعه الشركة على العميل ما هو إلا ستار للمبادلة، فهو غير مقصود للمشترك، فلا تأثير له في الحكم.

PERTAMA: MLM mengandung riba fadhl dan nasi’ah karena para distributor harus membayar sejumlah uang tertentu (di awal bergabung) yang sedikit dengan tujuan agar bisa mendapatkan uang yang lebih banyak sehingga terjadi pertemuan antara uang dengan uang dengan adanya perbedaan nilai yang akan diperoleh kemudian. Adapun barang yang menyertai transaksi diatas hanyalah bersifat kamuflase dan bukan menjadi tujuan yang sebenarnya dari transaksi.

ثانياً: أنها من الغرر المحرم شرعاً، لأن المشترك لا يدري هل ينجح في تحصيل العدد المطلوب من المشتركين أم لا؟ والتسويق الشبكي أو الهرمي مهما استمر فإنه لا بد أن يصل إلى نهاية يتوقف عندها، ولا يدري المشترك حين انضمامه إلى الهرم هل سيكون في الطبقات العليا منه فيكون رابحاً، أو في الطبقات الدنيا فيكون خاسراً؟ والواقع أن معظم أعضاء الهرم خاسرون إلا القلة القليلة في أعلاه، فالغالب إذن هو الخسارة، وهذه هي حقيقة الغرر، وهي التردد بين أمرين أغلبهما أخوفهما، وقد نهى النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عن الغرر، كما رواه مسلم في صحيحه.

KEDUA: MLM mengandung gharar yang diharamkan karena seseorang yang bergabung menjadi distributor tidak mengetahui apakah akan sukses dalam merekrut sesuai target ataukah tidak. Kemudian sampai batas waktu tertentu, jumlah jaringan yang terbentuk akan terhenti sehingga seorang distributor tidak tahu apakah ia akan berada di tingkat atas dan untung, atau di tingkat bawah dalam hirarki piramida MLM dalam kondisi rugi.

ثالثاً: ما اشتملت عليه هذه المعاملة من أكل الشركات لأموال الناس بالباطل، حيث لا يستفيد من هذا العقد إلا الشركة ومن ترغب إعطاءه من المشتركين بقصد خدع الآخرين، وهذا الذي جاء النص بتحريمه في قوله تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ {النساء: 29}.

KETIGA: sistem MLM ini merupakan bentuk kerjasama yang memakan harta orang lain dgn cara yang batil, karena hanya menguntungkan kelompok tertentu saja dengan cara menipu pihak lainnya (dengan mengiming-imingi dan memberikan harapan palsu).

رابعاً: ما في هذه المعاملة من الغش والتدليس والتلبيس على الناس، من جهة إظهار المنتج وكأنه هو المقصود من المعاملة والحال خلاف ذلك، ومن جهة إغرائهم بالعمولات الكبيرة التي لا تتحقق غالباً، وهذا من الغش المحرم شرعاً، وقد قال عليه الصلاة والسلام: من غش فليس مني ـ رواه مسلم في صحيحه

KEEMPAT: MLM mengandung kecurangan dan penipuan dilihat dari aspek bahwa dalam MLM yang menjadi tujuan sebenarnya dalam transaksi bukanlah barangnya. Dalam hal ini para distributor hanya diiming-imingi dengan mendapatkan bonus perekrutan yang besar yang belum tentu ia dapatkan (islamweb).

2. Fatwa yang menghalalkan dengan syarat:

Adapun fatwa yang menghalalkan dengan syarat, diantaranya dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional MUI (DSN-MUI), Dar Al-Ifta’ Libya, Dar Al-Ifta’ Tunisia dan Lajnah Fatwa Al-Azhar Mesir.

Dalam fatwa DSN-MUI, MLM didefinisikan sebagai:

“Cara penjualan barang atau jasa melalui jaringan pemasaran yang dilakukan oleh perorangan atau badan usaha kepada sejumlah perorangan atau badan usaha lainnya secara berturut-turut”.

Sedangkan money game adalah:

“Kegiatan penghimpunan dana masyarakat atau penggandaan uang dengan praktik memberikan komisi dan bonus dari hasil perekrutan / pendaftaran Mitra Usaha yang baru / bergabung kemudian dan bukan dari hasil penjualan produk, atau dari hasil penjualan produk namun produk yang dijual tersebut hanya sebagai kamuflase atau tidak mempunyai mutu/kualitas yang dapat dipertanggung jawabkan”.

Oleh karena itu, agar kegiatan pemasaran dan penjualan barang dengan cara MLM memenuhi ketentuan syariah, maka DSN MUI menetapkan syarat-syarat sebagai berikut:

1. Ada obyek transaksi riil yang diperjualbelikan berupa barang atau produk jasa.

2. Barang atau produk jasa yang diperdagangkan bukan sesuatu yang diharamkan dan atau yang dipergunakan untuk sesuatu yang haram.

3. Transaksi dalam perdagangan tersebut tidak mengandung unsur gharar, maysir, riba, dharar, dzulm, maksiat. Tidak ada harga/biaya yang berlebihan (excessive mark-up), sehingga merugikan konsumen karena tidak sepadan dengan kualitas/manfaat yang diperoleh.

4. Komisi yang diberikan oleh perusahaan kepada anggota baik besaran maupun bentuknya harus berdasarkan pada prestasi kerja nyata yang terkait langsung dengan volume atau nilai hasil penjualan barang atau produk jasa, dan harus menjadi pendapatan utama mitra usaha dalam PLBS.

5. Bonus yang diberikan oleh perusahaan kepada anggota (mitra usaha) harus jelas jumlahnya ketika dilakukan transaksi (akad) sesuai dengan target penjualan barang dan atau produk jasa yang ditetapkan oleh perusahaan.

6. Tidak boleh ada komisi atau bonus secara pasif yang diperoleh secara reguler tanpa melakukan pembinaan dan atau penjualan barang dan atau jasa.

7. Pemberian komisi atau bonus oleh perusahaan kepada anggota (mitra usaha) tidak menimbulkan ighra’. Ighra’ adalah daya tarik luar biasa yang menyebabkan orang lalai terhadap kewajibannya demi memperoleh bonus atau komisi yang dijanjikan.

8. Tidak ada eksploitasi dan ketidakadilan dalam pembagian bonus antara anggota pertama dengan anggota berikutnya.

9. Sistem perekrutan keanggotaan, bentuk penghargaan dan acara seremonial yang dilakukan tidak mengandung unsur yang bertentangan dengan aqidah, syariah dan akhlak mulia, seperti syirik, kultus, maksiat dan lain-lain.

10. Setiap mitra usaha yang melakukan perekrutan keanggotaan berkewajiban melakukan pembinaan dan pengawasan kepada anggota yang direkrutnya tersebut.

11. Tidak melakukan kegiatan money game.

12. Akad-akad yang dapat digunakan dalam pemasaran berjenjang (MLM) diantaranya adalah: akad jual beli/murabahah, akad wakalah bil ujrah, akad ju’alah, akad ijarah atau akad-akad lain yang sesuai dengan prinsip syariah setelah dikeluarkan fatwa oleh DSN-MUI.

———————————————————
Kesimpulan Fatwa
———————————————————

Fatwa yang melarang tentang pemasaran barang melalui mekanisme MLM, berlaku untuk MLM yang memang mengandung hal-hal yang diharamkan sebagaimana yang telah dinyatakan di dalam fatwa tersebut. Tetapi, ketika sebuah MLM bisa membuktikan bahwa ia terbebas dari unsur-unsur yang diharamkan, maka MLM tersebut menjadi sesuatu yang halal sebagaimana dinyatakan dalam fatwa yang membolehkan. Hal ini sesuai dengan kenyataan bahwa bentuk suatu bisnis memang bisa berubah secara dinamis, sehingga berlaku kaidah fiqih:

الأصل في المعاملات الحل والإباحة

“Hukum asal dalam muamalah adalah halal dan mubah”

Dengan demikian pada dasarnya, fatwa yang membolehkan tidak bertentangan dengan fatwa yang melarang karena kedua fatwa tersebut bersepakat pada satu titik bahwa ketika sebuah MLM tersebut mengandung unsur riba, gharar, maysir dan kebatilan lainnya, maka ia menjadi haram.

D. Penutup

Dalam rantai pemasaran barang secara reguler (non MLM) untuk menjadi seorang distributor pada level apapun, seseorang harus membeli sejumlah persediaan dalam jumlah tertentu sesuai yang dipersyaratkan oleh produsen. Atas pembelian tersebut, produsen akan memberikan diskon terhadap harga barang yang dibeli sehingga distributor dapat mengambil selisih harga jual beli yang akan menjadi keuntungannya. Mekanisme seperti ini secara syariah diperbolehkan, sebab didasarkan pada akad jual beli yang memenuhi rukun dan syaratnya.

Apabila dalam sebuah MLM menggunakan pola yang sama sebagai syarat bagi seseorang untuk bergabung menjadi seorang distributor, maka tidak terdapat unsur riba dalam pendaftaran keagenannya. Karena uang pembayaran yang dibayarkan oleh seseorang untuk menjadi seorang distributor, merupakan uang pembelian atas sejumlah barang yang akan menjadi persediaan barang baginya.

Disamping itu, tidak semua ketidakpastian termasuk ke dalam gharar. Ketidakpastian yang termasuk ke dalam gharar adalah ketidakpastian yang terjadi akibat tidak terpenuhinya ketentuan-ketentuan syariah pada suatu transaksi.

Oleh karena itu, ketidakpastian apakah seseorang tersebut akan sukses atau tidak dalam berbisnis, bukanlah merupakan bentuk dari gharar, sepanjang bisnis yang dijalankan adalah bisnis yang sesuai dengan ketentuan syariah. Contoh lain, ketidakpastian berapa nilai keuntungan yang akan dihasilkan dari sebuah kemitraan yang diikat dengan akad musyarakah, bukanlah merupakan gharar pula.

Kemudian, sepanjang perekrutan distributor tersebut hanya ditujukan sebagai strategi dalam memperbesar omset penjualan dari sebuah tim pemasaran, maka hal tersebut diperkenankan secara syariah. Hal ini berlaku untuk semua bentuk pemasaran, baik MLM maupun bukan.

Berbeda jika perekrutan dan uang pendaftaran yang dibayarkan tersebut adalah menjadi bagian dari proses money game sebagaimana disebutkan dalam fatwa DSN dan fatwa lainnya yang hukumnya adalah haram. Sebab uang tersebut bukan merupakan uang pembelian barang atau sebagai pengganti dari biaya riil pengadaan starter kit pemasaran yang sepadan, sehingga tidak dilandasi akad yang jelas.

Apakah semua perusahaan MLM yang ada saat ini memasarkan barang yang tidak memiliki kualitas sehingga mengandung penipuan? Pertanyaan ini mungkin bisa dijawab melalui pengujian produk. Seandainya produk perusahaan MLM tersebut adalah benar-benar sesuatu yang memiliki nilai manfaat yang bisa dipertanggungjawabkan, permasalahan dalam etika pemasaran tetap harus diperhatikan. Bisa jadi, dalam konteks barang memang tidak terdapat unsur penipuan atau kecurangan, akan tetapi yang bermasalah adalah pada proses penjualannya, atau adab dalam pemasarannya.

Disinilah urgensi dari adanya proses sertifikasi halal dari lembaga yang memiliki kewenangan terhadap suatu perusahaan MLM. Namun demikian, MLM yang belum bersertifikasi halal bukan berarti kemudian secara langsung bersifat haram, tetapi diperlukan kajian terhadap masing-masing perusahaannya dengan menggunakan parameter-parameter yang telah dinyatakan di dalam fatwa.

———————————————–
Bogor, 26 Juni 2020