Akad murabahah adalah akad jual beli suatu barang dengan menegaskan harga belinya (harga pokok barang) kepada pembeli dan pembeli membayarnya dengan harga yang lebih sebagai keuntungan bagi penjual, sesuai kesepakatan. Adapun pembiayaan murabahah ialah akad jual beli murabahah antara Lembaga Keuangan Syariah (LKS) dengan nasabahnya secara tidak tunai (pembayaran secara mencicil).

Dalam fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) nomor 111 dijelaskan bahwa ijma’ mayoritas ulama membolehkan jual beli dilakukan dengan cara murabahah dan masuk dalam keumuman transaksi jual beli yang secara hukum asalnya adalah halal. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala dalam QS. Al-Baqarah ayat 275:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba

Pembiayaan murabahah merupakan salah satu jenis pembiayaan yang sering kita jumpai dalam praktek LKS. Beberapa faktor yang menyebabkan tingginya penggunaan akad murabahah ini dalam pembiayaan diantaranya adalah:

  1. Akad murabahah merupakan akad jual beli yang secara konsep lebih mudah dan simpel dibandingkan dengan jenis akad lainnya.
  2. Dalam pembiayaan, jual beli murabahah yang dilakukan antara LKS dengan para nasabahnya menggunakan pola pembayaran cicilan yang berbasis utang piutang, sehingga bagi LKS dan nasabah menjadi lebih aman dan pasti.
  3. Lebih mudah bagi LKS untuk memberikan pemahaman kepada para nasabahnya terkait akad yang digunakan.

Berikut penjelasan tentang tahapan-tahapan dalam pembiayaan murabahah secara benar:

  1. Nasabah datang kepada LKS dan mengajukan pemesanan atas barang yang diinginkan. Pada tahap ini, nasabah menandatangani surat Promise to Purchase (Janji Beli) kepada LKS yang intinya menyatakan bahwa jika LKS telah membeli barang tersebut dari pihak suplier, maka nasabah akan membelinya dari Bank dengan perkiraan harga jual yang diketahui.

  2. Berdasarkan adanya pemesanan dan janji beli dari nasabah, LKS melakukan pembelian barang dari suplier. Apakah pembelian barang ini harus dilakukan oleh LKS sendiri, ataukah boleh dengan mewakilkan kepada pihak lain termasuk nasabah? Terdapat perbedaan pandangan diantara para ulama terkait masalah ini.

    Dewan Syariah Nasional dalam fatwanya nomor 04 tentang murabahah dan nomor 111 tentang akad jual beli murabahah membolehkan adanya pemberian kuasa dari LKS kepada pihak ketiga lainnya ataupun kepada nasabah untuk melakukan pembelian barang dari suplier. Sedangkan Ketentuan Syariah (Shariah Standards) yang dikeluarkan oleh AAOIFI (Accounting & Auditing Organization for Islamic Financial Institutions) nomor 08 tentang murababahah, tidak membolehkan adanya pemberian kuasa kepada nasabah sendiri untuk melakukan pembelian barang dari suplier. Kuasa tersebut boleh diberikan kepada pihak lain selain nasabah.

    Dalam implementasinya, sangat direkomendasikan kepada LKS untuk melakukan pembelian barang dari suplier secara langsung (tanpa wakalah) atau jika tidak, melalui pemberian kuasa kepada pihak ketiga selain nasabah. Hal ini untuk menghindari adanya penyimpangan aspek syariah berupa penyalahgunaan dana oleh nasabah yang akan menyebabkan akad murabahah antara LKS dan nasabah menjadi batil.
  3. Setelah pembelian barang dari suplier dilakukan, suplier harus terlebih dahulu menyerahkan barang yang telah dibeli oleh LKS, kepada LKS, baik dalam bentuk serah terima fisik, maupun serah terima penguasaan atas barang yang dibeli (secara terima secara hukum). Penyerahan ini mutlak harus dilakukan sebelum LKS menjual kembali barang tersebut kepada nasabah dengan akad murabahah.
  4. Selanjutnya, LKS dan nasabah dapat melakukan akad jual beli murabahah dengan pembayaran secara cicilan.

________________________
Bogor, 22 Mei 2020

Oleh Ardiansyah Rakhmadi