Akad musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu, dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi modal dengan ketentuan bahwa keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.

Terdapat 2 mekanisme utama pengakhiran akad dalam akad musyarakah:

  1. Pengakhiran Akad Musyarakah Melalui Penarikan Modal

Mekanisme penarikan modal terbagi menjadi dua:

Pertama, penarikan modal atas dasar likuidasi aktual (at-tandhidh al-haqiqi). Likuidasi aktual adalah perhitungan laba rugi dalam usaha musyarakah melalui penjualan seluruh aset musyarakah (usaha berakhir). Mekanisme penarikan modal atas dasar likuidasi aktual dilakukan dengan cara menjual seluruh aset musyarakah bersama-sama, kemudian masing-masing pihak mengambil bagian modalnya sesuai dengan nominal modal diawal. Jika terdapat kelebihan, maka akan diakui sebagai keuntungan dan dibagi berdasarkan besaran porsi modal masing-masing pihak atau nisbah bagi hasil sesuai kesepakatan.

Al-Bahuti (1983, hal. (3) 192) dan Ibnu Qudamah (1997, hal. (7) 126) menyatakan bahwa jika seorang mitra mengeluarkan modal beberapa dirham dan mitra lainnya beberapa dinar atau seorang mitra mengeluarkan seratus dan mitra lainnya dua ratus, maka hak keduanya ketika terjadi pengakhiran akad musyarakah adalah senilai dan sejenis dengan yang telah dikeluarkan sebagai modal. Adapun jika masih terdapat sisa, hal tersebut merupakan keuntungan bersama yang dibagi.

Kedua, penarikan modal atas dasar likuidasi konstruktif (at-tandhidh al-hukmi). Likuidasi konstruktif adalah  perhitungan laba rugi dalam usaha musyarakah melalui perhitungan akuntansi (nilai buku). Penarikan modal atas dasar likuidasi konstruktif dapat dilakukan dalam kondisi penarikan modal dilakukan oleh salah satu mitra tanpa mengakhiri usaha yang menjadi obyek musyarakah (usaha masih terus dijalankan oleh mitra lain). Dalam kondisi ini, likuidasi aktual tidak mungkin dilakukan sebab usaha yang menjadi obyek syirkah masih tetap berjalan dengan dikelola oleh mitra lainnya.

  1. Penjualan Porsi Unit Kepemilikan (Hishshah) Usaha Atau Saham

Mekanisme penjualan porsi unit kepemilikan usaha atau saham biasanya dilakukan dalam akad musyarakah berbentuk musyarakah mutanaqishah (MMQ)/ diminishing partnership atau syarikah musahamah. Akad MMQ ialah akad musyarakah atau syirkah yang kepemilikan aset (barang) atau modal salah satu pihak (syarik) berkurang disebabkan pembelian secara bertahap oleh pihak lainnya. Adapun syarikah musahamah adalah akad musyarakah yang kepemilikan usahanya dinyatakan dalam bentuk unit-unit atau jumlah lot saham.

_______________________________
Oleh Ardiansyah Rakhmadi

Referensi:

AAOIFI. (2015). Shari’ah Standards. Dar AlMaiman
Al-Bahuti, M. (1983). Kasysyaf Al-Qina’ ‘An Matni Al-Iqna’. Beirut: ‘Alam Al-Kutub
-DSN. (2020). Dewan Syariah Nasional. Dipetik 2020, dari DSN Web site: https://dsnmui.or.id
-Ibnu Quddamah. (1997). Al-Mughni. Riyadh: Dar ‘Alam Al-Kutub