Orang yang berinvestasi adalah orang yang membelanjakan uangnya untuk membeli peralatan dan barang yang dapat digunakan untuk memproduksi atau menghasilkan sesuatu sehingga bisa mendapatkan keuntungan dalam bentuk uang. Oleh karena itu membeli mata uang tertentu yang dianggap kuat, pada hakikatnya bukanlah berinvestasi, namun hanya melindungi nilai tukarnya terhadap mata uang uang lainnya sebab uang tidak akan menghasilkan sesuatu hingga ia dibelanjakan untuk membeli alat produksi atau persediaan yang dapat dijual kembali. Uang hanyalah merupakan alat tukar.

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya I’lam Al-Muwaqqi’in (Juz 3 hal 402) yang menyatakan bahwa fungsi uang adalah sebagai alat tukar atau penyimpan nilai. Ia menjelaskan:

فالأثمان لا تقصد لأعيانها بل يقصد التوسل بها إلى السلع فإذا صارت فى أنفسها سلعا تقصد لأعيانها فسد أمر الناس

“Uang bukanlah sesuatu yang ditujukan secara zatnya, namun ditujukan sebagai perantara (alat tukar) untuk memperoleh barang-barang. Oleh sebab itu jika uang difungsikan sebagai barang (bukan sebagai alat tukar) maka akan menimbulkan kerusakan/ permasalahan…”.

Pendapat Ibnu Qayyim diatas sama dengan pendapat Al-Ghazali dan Al-Maqrizi tentang fungsi uang sebagai alat tukar atau penyimpan nilai (Al-Iqtishad wa Al-Mal fi At-Tasyri’ Al-Islami, Dr. Fauzi Al-‘Athawi, Hal. 115.

Oleh karena itu, dalam konteks ekonomi, kekuatan suatu negara tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah kekayaan atau uang yang dimilikinya saat ini, namun dipengaruhi pula oleh sejauh mana negara tersebut mempunyai kemampuan dalam memproduksi dan mendistribusikan barang dan jasa. Hal ini menjelaskan mengapa negara yang memiliki kekayaan alam yang banyak, belum tentu memiliki kondisi ekonomi yang baik.

Ibnu Khaldun dalam Kitabnya Mukaddimah Jilid 1, Bab 5, Pembahasan nomor 4, hal. 486) ketika berbicara tentang hubungan antara uang dan kemakmuran pada suatu negara menjelaskan bahwa tingkat kemakmuran suatu negara tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak negara tersebut memiliki cadangan bahan tambang seperti emas dan perak atau kekayaan modal lainnya, melainkan dipengaruhi pula oleh kemampuannya untuk memproduksi barang dan jasa serta mendistribusikannya sehingga dapat mendatangkan emas dan perak (uang) bagi negara tersebut. Dalam salah satu paragraf, Ibnu Khaldun menyatakan:

أن الأموال من الذهب والفضة والجواهر والأمتعة إنما هي معادن ومكاسب … والعمران يظهرها بالأعمال الإنسانية ويزيد فيها أو ينقصها وما يوجد منها بأيدي الناس فوه متناقل متوارث وربما انتقل من قطر إلى قطر ومن دولة إلى أخرى بحسب أغراضه

“Sesungguhnya harta dari emas, perak, batu-batu mulia dan benda-benda berharga lainnya hanyalah barang-barang tambang (yang terwarisi) dan kekayaan yang dapat diupayakan… . Sedangkan kemakmuran dapat diperoleh dari upaya manusia (ikhtiar) sehingga ia bisa bertambah atau berkurang. Maka, kekayaan yang ada pada manusia sifatnya berpindah, terwarisi serta dapat berpindah dari satu wilayah ke wilayah yang lain atau boleh jadi berpindah dari satu negara ke negara yang lainnya…”.

Dengan kata lain, negara yang kaya dan kuat kemampuan ekonominya hari ini akan menjadi lemah jika tidak mampu mempertahankan dan meningkatkan kemampuannya dalam produksi dan distribusi melalui perdagangan.

Dan faktor yang paling penting dalam Ekonomi Islam, seluruh ikhtiar dalam menjalankan fungsi produksi dan distribusi sebagaimana dijelaskan diatas harus dilandasi dengan keimanan dan ketakwaaan untuk mencapai keberkahan.

Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-A’raf ayat 96:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.

 

Bogor 12 April 2020

Oleh Ardiansyah Rakhmadi