Prinsip dasar yang harus melandasi pengembangan produk dalam LKS adalah kesesuaian akad yang digunakan di dalam produk tersebut dengan maqashid asy-syariah (shariah objectives) yang melekat sesuai jenis akadnya. Oleh karena itu, merupakan suatu kesalahan jika pemilihan akad untuk suatu produk semata-mata hanya berdasarkan fitur akadnya.

Contoh:

Pemilihan akad ijarah muntahiyah bittamlik (IMBT) untuk produk pembiayaan kepemilikan rumah syariah (KPRS) dengan semata-mata hanya melihat pada fitur ujrah (uang sewa) pada akad ijarah yang nilainya dapat diubah sesuai periode sewanya tanpa melihat pada esensi yang sebenarnya dari akad sewa itu. Ini adalah sebuah kekeliruan yang fatal akibatnya.

Esensi yang sebenarnya dari akad IMBT adalah, rumah merupakan milik LKS. Dalam hal ini LKS menyewakan rumah tersebut selama periode waktu tertentu sebelum kemudian mengalihkan kepemilikannya kepada nasabah melalui akad jual beli atau hibah.

Konsekuensinya, LKS masih memiliki tanggungjawab pemeliharaan terhadap rumah yang menjadi aset sewa dan menanggung risiko kepemilikannya. Disamping itu LKS harus memiliki infrastruktur yang memadai terkait pengelolaan aset ijarahnya.

Dengan demikian, sangat penting bagi LKS untuk memastikan bahwa hanya akad yang telah mampu ia laksanakan sesuai maqashid asy-syariah nya yang boleh digunakan dalam produk-produknya.

Bagi LKS, akad murabahah pun boleh jadi sudah cukup memadai asalkan dalam pelaksanaannya, memenuhi esensi dari akad murabahah tersebut sesuai ketentuan yang terdapat pada rukun dan syarat akad murabahah.

Oleh: Ardiansyah Rakhmadi

Artikel https://ardiansyahrakhmadi.com