Hilangnya mashlahat dapat mengakibatkan transaksi atau tindakan yang semula memiliki hukum asal boleh, menjadi dilarang.

Maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

{۞ يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ} [الأعراف : 31]

( 31 ) Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. QS. Al-A’raf.

Dalam konteks ayat diatas, makan dan minum menjadi dilarang apabila sudah memasuki fase “berlebihan (israaf)”. Dalam hal ini ketika sudah memasuki fase “berlebihan”, maka mashlahat dari makan dan minum telah hilang, justru yang timbul adalah sebaliknya, yaitu mudharat/ sesuatu yang membahayakan.

Prinsip diatas berlaku pula pada seluruh transaksi dalam kegiatan ekonomi, baik pada transaksi yang bersifat tunai, maupun pada transaksi yang mengandung unsur utang piutang atau berupa penyertaan modal.

Misalnya pada transaksi dengan akad salam. Transaksi salam merupakan transaksi jual beli yang mengandung utang piutang yang diperbolehkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Jual beli salam adalah jual beli dimana pembayaran dilakukan secara tunai dimuka, namun serah terima barang atau obyek jual belinya ditangguhkan sampai pada batas waktu yang telah disepakati. Misalnya, barang baru diserahkan 1 tahun kemudian.

Dalam riwayat disebutkan:

Sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata:

أشهد أن السلف المضمون إلى أجل مسمى قد أحله الله في الكتاب وأذن فيه، قال الله عز وجل يا أيها الذين آمنوا إذا تداينتم بدين إلى أجل مسمى فاكتبوه الآية. رواه الشافعي والطبري عبد الرزاق وابن أبي شيبة والحاكم والبيهقي وصححه الألباني

Saya bersaksi bahwa jual-beli as-salaf (salam) yang terjamin hingga batas waktu yang telah ditentukan, dihalalkan dan diizinkan Allah dalam Al Qur’an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (artinya): “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertransaksi tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menulisnya.” (Riwayat As-Syafi’i, At-Thobari, Abdurrazzaq, Ibnu Abi Syaibah, Al Hakim dan Al Baihaqi).

Kemudian dalam riwayat lain:

عن ابن عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قال: قَدِمَ النبي صلى الله عليه و سلم الْمَدِينَةَ وَهُمْ يُسْلِفُونَ بِالتَّمْرِ السَّنَتَيْنِ وَالثَّلَاثَ. فقال: من أَسْلَفَ في شَيْءٍ فَفِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إلى أَجَلٍ مَعْلُومٍ . متفق عليه

Dari sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di kota Madinah, penduduk Madinah telah terbiasa memesan buah kurma dalam tempo waktu dua tahun dan tiga tahun, maka beliau bersabda: ‘Barang siapa yang memesan sesuatu (membeli dengan cara salam), maka hendaknya ia memesan dalam jumlah takaran yang telah diketahui, dalam timbangan yang telah diketahui dan jangka waktu serah terima yang telah diketahui pula.” (Muttafaqun ‘alaih).

Transaksi salam mengandung mashlahat bagi penjual dan pembeli. Bagi pembeli, dia bisa mendapatkan barang yang diperlukan pada masa yang akan datang dengan harga pasar saat ini. Bagi penjual, dia bisa mendapatkan modal diawal untuk menyediakan barang atau obyek jualannya.

Berdasarkan hadits diatas, dapat diketahui bahwa salah satu yang menyebabkan hilangnya mashlahat dari jual beli salam adalah apabila terdapat ketidakjelasan pada spesifikasi barang sehingga akan menimbulkan gharar (ketidakjelasan) dan mudharat bagi si pembeli.

Hal inilah yang menyebabkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam, memperbolehkan jual beli salam untuk dilakukan, dengan syarat spesifikasi barangnya harus jelas dan waktu serah terimanya harus telah disepakati bersama.

Oleh: Ardiansyah Rakhmadi

https://ardiansyahrakhmadi.com