Beberapa potensi kekeliruan dalam pembiayaan yang harus diwaspadai oleh LKS adalah:

A. Pada Pembiayaan Murabahah:

  1. Beranggapan bahwa dengan memberikan kuasa membeli (wakalah) barang kepada nasabah, LKS sudah tidak bertanggung jawab terhadap barang yang menjadi obyek murabahah.
  2. Beranggapan bahwa dengan telah memberikan wakalah kepada nasabah dalam pembiayaan murabahah, LKS tidak perlu melakukan pengecekan barang dan memastikan bahwa barang sudah diserahterimakan terlebih dahulu dari suplier kepada LKS melalui wakilnya, sebelum akad murabahah dilakukan.
  3. Akad wakalah dan akad murabahah dilakukan pada satu majelis akad secara bersamaan.
  4. Barang yang akan menjadi obyek murabahah telah dibeli dan dimiliki terlebih dahulu oleh nasabah sebelum akad murabahah dilakukan.

B. Pada Pembiayaan Bagi Hasil:

  1. Realisasi bagi hasil dalam akad musyarakah atau mudharabah tidak berdasarkan laporan pendapatan riil dari nasabah namun hanya mendasarkan kepada perhitungan ekspektasi bagi hasil diawal, sebagaimana yang tercantum dalam jadwal perkiraan realisasi bagi hasil.
  2. Tidak memastikan terlebih dahulu kesediaan nasabah untuk diberikan pembiayaan berbasis bagi hasil sebelum akad musyarakah atau mudharabah dilakukan.
  3. Nasabah telah menyatakan sebelum akad dilakukan, bahwa nasabah tidak bersedia untuk memberikan laporan realisasi pendapatan, namun LKS tetap melanjutkan proses pelaksanaan akad musyarakah tersebut.
  4. LKS menetapkan nisbah bagi hasil yang menjadi hak LKS dengan nilai persentase yang sangat tinggi (melebihi ekspektasi LKS yang sebenarnya) dengan tujuan agar LKS dapat melepaskan keuntungan yang menjadi haknya pada saat realisasi bagi hasil dilakukan sehingga nilai bagi hasil yang harus dibayar oleh nasabah kepada LKS selalu bernilai tetap.

Oleh: Ardiansyah Rakhmadi

Artikel https://ardiansyahrakhmadi.com