Salah satu aturan yang sangat mendasar terkait riba adalah adanya kaidah bahwa “Setiap pinjaman yang mendatangkan manfaat (bagi pihak yang meminjamkan) adalah riba”. Kaidah ini didasarkan pada hadits Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Al-Harits bin Abi Usamah dari Ali Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
«كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً, فَهُوَ رِبًا»

“Setiap pinjaman yang mendatangkan manfaat (bagi pihak yang meminjamkan) adalah riba”

Syeikh Bin Baz menjelaskan bahwa sanad hadits diatas memang bersifat dha’if (lemah) namun para ulama sepakat atas keshahihan atau kebenaran maknanya (Fatwa Nur ‘Ala ad-Darb).

Disamping itu, hadits diatas memiliki banyak riwayat penguat yang menguatkan dari segi kandungan maknanya. Diantaranya adalah riwayat dari Al-Bukhari:

عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِيهِ أَتَيْتُ الْمَدِينَةَ فَلَقِيتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ سَلَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ أَلَا تَجِيءُ فَأُطْعِمَكَ سَوِيقًا وَتَمْرًا وَتَدْخُلَ فِي بَيْتٍ ثُمَّ قَالَ إِنَّكَ بِأَرْضٍ الرِّبَا بِهَا فَاشٍ إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ أَوْ حِمْلَ قَتٍّ فَلَا تَأْخُذْهُ فَإِنَّهُ رِبًا وَلَمْ يَذْكُرِ النَّضْرُ وَأَبُو دَاوُدَ وَوَهْبٌ عَنْ شُعْبَةَ الْبَيْتَ

“….Abdullah bin Salam Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Sesungguhnya engkau tinggal di suatu negeri yang padanya praktik riba merajalela, dan sesungguhnya di antara pintu-pintu riba ialah seseorang dari kalian memberikan piutang hingga tempo tertentu, dan bila telah jatuh tempo, penghutang datang dengan uang yang ia hutang sambil membawa serta keranjang yang berisikan hadiah berupa gandum atau makanan pokok lainnya, maka hendaknya engkau jangan mengambilnya karena itu riba”.

Oleh karena itu pandangan yang menyatakan tentang kelemahan sanad hadits ini untuk menunjukkan bahwa makna yang dikandungnya juga tidak dapat dijadikan hujjah atau lemah adalah pandangan yang keliru dan tidak dapat dibenarkan sebab:

1. Terdapat kesepakatan para ulama tentang keshahihan maknanya.

2. Terdapat riwayat lain yang shahih yang menjadi penguat.

3. Kandungan makna hadits diatas merupakan esensi dasar dari riba sehingga menolak hadits diatas berarti menolak eksistensi asal dari riba, yaitu riba qardh.

Oleh Ardiansyah Rakhmadi

Artikel http://www.ardiansyahrakhmadi.com