Berbicara tentang halal value chain berarti berbicara tentang sebuah pekerjaan besar yang sifatnya adalah kerja jamaah alias kerja kolektif. Tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri atau hanya dikerjakan berdasarkan segmen dan komunitas tertentu, tetapi sekali lagi, harus berjamaah dari hulu ke hilir.

Ada yang bergerak melalui pemerintahan untuk menyiapkan segala regulasi dan payung hukum yang diperlukan. Ada yang bergerak di sektor usaha produksi dan distribusi untuk menyediakan dan mendistribusikan barang dan jasa yang halal yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Ada yang bergerak di sektor keuangan untuk menyediakan layanan transaksi dan pengelolaan keuangan serta pertanggungan sosial yang memenuhi ketentuan syariah. Ada pula yang bergerak di bidang pendidikan untuk menyiapkan SDM yang mumpuni.

Tentunya kita tidak menghendaki adanya hal-hal yang haram namun terpaksa dilakukan karena terdapat regulasi yang mengharuskan demikian. Ada barang dan jasa yang halal namun didistribusikan dengan cara yang tidak sesuai syariah. Kemudian perputaran keuangan dari hasil produksi dan distribusi barang dan jasa yang halal tetapi dikelola dengan cara yang diharamkan.

Dengan memahami adanya keharusan atas kerja jamaah ini, mudah-mudahan tidak ada lagi anggapan bahwa “meninggalkan riba itu wajib, tapi membangun lembaga keuangan syariah (LKS), tidak wajib.” Karena realita saat ini adalah “tanpa keberadaan LKS, seseorang akan sulit atau bahkan tidak akan bisa terlepas sepenuhnya dari riba.”

Hal ini sesuai dengan kaidah yang menyatakan:

مَا لا يَتمّ الوَاجِب إلا بِه فَهُوَ وَاجِب

“Segala kewajiban yang tidak dapat disempurnakan kecuali dengan adanya sesuatu, maka sesuatu tersebut menjadi wajib”

Dalil dari kaidah diatas adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَلَوْ أَرَادُوا۟ ٱلْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا۟ لَهُۥ عُدَّةً وَلَٰكِن كَرِهَ ٱللَّهُ ٱنۢبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ ٱقْعُدُوا۟ مَعَ ٱلْقَٰعِدِينَ

Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (QS. At-Taubah: 46).

Jadi mari kita saling bersinergi, bukan saling meniadakan.

Oleh: Ardiansyah Rakhmadi

Artikel ardiansyahrakhmadi.com