Namanya jual beli salam atau salaf. Jual beli salam ini dulu sering dilakukan oleh penduduk Madinah. Jual beli salam adalah bentuk jual beli dimana si pembeli membayar tunai di depan. Adapun barang yang menjadi obyek jual beli, diserahkan dikemudian hari sesuai kesepakatan. Jual beli salam sebenarnya termasuk jual beli ma’dum atau jual beli atas barang/ sesuatu yang belum ada, yang hukum asalnya tidak diperbolehkan. Namun khusus untuk salam, Rasulullah memperbolehkan dengan adanya sejumlah persyaratan yang wajib dipenuhi.

Dalam hadits shahih riwayat Imam Al-Bukhari diriwayatkan:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَهُمْ يُسْلِفُونَ بِالتَّمْرِ السَّنَتَيْنِ وَالثَّلَاثَ فَقَالَ مَنْ أَسْلَفَ فِي شَيْءٍ فَفِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ حَدَّثَنَا عَلِيٌّحَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي نَجِيحٍ وَقَالَ فَليُسْلِفْ فِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْابْنِ أَبِي نَجِيحٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ كَثِيرٍ عَنْ أَبِي الْمِنْهَالِ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ فِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tiba di Madinah, mereka (penduduk Madinah) berjual beli kurma dengan cara salaf (salam) untuk kurun waktu dua hingga tiga tahun. Maka Rasul bersabda: Barangsiapa yang melakukan jual beli salaf (salam), haruslah dalam takaran yang jelas, timbangan yang jelas dan dengan jangka waktu yang jelas.”

Apa mashlahat yang bisa diambil dari jual beli salam ini? Bagi petani, maka:

1. Petani bisa mendapatkan modal diawal untuk menanam.

2. Bagi pembeli, ia sudah mendapatkan harga yang pasti untuk komoditas yang akan diterima dimasa yang akan datang. Dengan demikian, salam merupakan salah satu sarana hedging (lindung nilai) yang diperbolehkan oleh syariat.

3. Sebagai Wholesaler, penjual bisa memperpendek jangka waktu penyimpanan stok atas suatu komoditi, tanpa harus merasa khawatir harga komoditi akan naik di pasar, jika ia tidak menyimpan stok dalam jumlah besar untuk jangka waktu yang panjang.

Tentunya, dalam melakukan salam ini, petani perlu melakukan upaya mitigasi atas risiko gagal panen. Diantara cara mitigasi yang dapat ditempuh adalah dengan membentuk pencadangan dana dan menjalin hubungan kerjasama dengan petani lain yang menanam komoditi yang sama.

Pemerintah dalam hal ini bisa ambil bagian untuk membuka akses permodalan melalui salam bagi petani. Bisa sebagai guarantor atau bisa pula sebagai pembeli dari petani. Pemerintah dapat memberdayakan Bulog. Atau melalui bursa komoditi syariah sebagai pasar jual beli salam.

Perlu digarisbawahi bahwa dalam pelaksanaannya, harus diperhatikan aturan syariat lainnya agar jangan sampai ada kesepakatan yang mengarah kepada praktek riba fadhl dan nasi’ah.

Riba fadhl adalah pertukaran dua barang ribawi yang sejenis dengan adanya perbedaan takaran. Misalnya satu kilo beras rajalele ditukar dengan satu kilo beras delanggu. Adapun riba nasi’ah adalah pertukaran dua barang ribawi yang sejenis atau berbeda jenis namun masih dalam satu klasifikasi yang sama (misalnya gandum dengan kurma klasifikasinya sama yaitu pangan pokok) dengan adanya penangguhan dalam serah terima pada salah satunya.

Ditulis oleh: Ardiansyah Rakhmadi

Artikel ardiansyahrakhmadi.com