Sistem perekonomian dalam peradaban Islam dibangun atas dasar sistem ekonomi yang bebas dari riba, maysir dan gharar serta hal-hal yang diharamkan lainnya. Sebaliknya peradaban di luar Islam yang digerakkan oleh bangsa Romawi, Yunani dan Yahudi, semuanya menjadikan riba sebagai poros ekonomi mereka.

Sejarah mencatat bahwa kaum Yahudi yang berada di Thaif dan Madinah merupakan kaum yang menyebarkan praktek riba di Jazirah Arab (Yunus Al-Mashri, 2001). Beberapa praktek riba yang sering dilakukan pada masa itu diantaranya adalah:

1. Peminjaman uang dinar dan dirham dengan jangka waktu tertentu, dengan adanya kesepakatan atas tambahan yang harus dibayarkan oleh peminjam sesuai kesepakatan (Al-Jashash, Ahkam Al- Qur’an).

2. Peminjaman uang dimana si pemberi pinjaman akan mengambil tambahan berupa riba yang harus dibayar setiap bulan oleh peminjam. Adapun pokok pinjaman dikembalikan oleh si peminjam pada saat jatuh tempo. Jika pada saat jatuh tempo si peminjam tidak dapat mengembalikan pokoknya, maka pemberi pinjaman akan menaikkan jumlah riba yang harus dibayar (Al-Jashash, Ahkam Al Qur’an).

3. Peminjaman uang dimana apabila si peminjam tidak bisa mengembalikan pinjamannya saat dilakukan penagihan, maka pemberi pinjaman akan melipatgandakan hutang yang harus dibayar pada tahun berikutnya. Sehingga hutang 100 akan menjadi 200, jika penagihan berikutnya belum mampu membayar, maka tahun berikutnya akan dinaikkan kembali dari 200 menjadi 400, dan seterusnya (At-Thabari, 1980).

4. Peminjaman uang dimana si pemberi pinjaman akan mengatakan kepada orang yang meminjam saat jatuh tempo: “tambahkan kepadaku riba, maka aku akan memperpanjang jangka waktu pinjamanmu” (Ibnu Katsir, 1981).

Kegemaran orang Yahudi dalam mengambil riba seperti diatas, diabadikan di dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 160 dan 161:

“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah.

dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.”

Oleh: Ardiansyah Rakhmadi

Artikel ardiansyahrakhmadi.com