Traveller cheque adalah cek perjalanan atau wisata yang dibawa oleh seseorang yang sedang melakukan perjalanan jauh untuk tujuan keamanan dan kemudahan atau kepraktisan sebagai alat bayar di tempat yang dituju.

Dalam sejarah, tercatat bahwa ide dasar dari traveller cheque telah dikenal dan digunakan oleh kaum muslimin dalam bentuk suftajah ataupun batu permata. An-Nawawi mendefinisikan suftajah sebagai catatan dari seorang pemilik dana kepada wakilnya di negara lain untuk membayarkan sejumlah dana kepada pemegang suftajah. Ibnu ‘Abidin dalam kitab Hasyiah Ad-Dasuqi mendefinisikan suftajah sebagai catatan yang diberikan oleh seseorang yang diberikan pinjaman kepada wakilnya di suatu negeri untuk membayarkan sejumlah dana sebesar pinjaman yang telah diambil kepada pihak yang meminjamkan uang kepadanya di negara tujuan. Tujuan dari suftajah ini adalah untuk tujuan keamanan dalam perjalanan sebab si pemegang suftajah tidak perlu membawa dana tunai yang ia perlukan di tempat tujuan.

As-Sarakhsi dalam kitab Al-Mabshuth menuliskan sebuah riwayat tentang adanya praktek penggunaan suftajah pada masa sahabat:
عطاء -رحمه الله- أَنَّ ابْنَ الزُّبَيْرِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – كَان يَأْخُذُ بِمَكَّةَ الْوَرِقَ مِنْ التُّجَّار،ِ فَيَكْتُبُ لَهُمْ إلَى الْبَصْرَةِ، وَإِلَى الْكُوفَةِ، فَيَأْخُذُونَ أَجْوَدَ مِنْ وَرِقِهِمْ. قَالَ عَطَاءٌ: فَسَأَلْت ابْنَ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنْ أَخْذِهِمْ أَجْوَدَ مِنْ وَرِقِهِمْ فَقَالَ: لَا بَأْسَ بِذَلِكَ مَا لَمْ يَكُنْ شَرْطًا

Dari ‘Atha’ Rahimahullah bahwasanya Az-Zubair Radhiyallahu ‘Anhu menerima uang dirham dari para pedagang kemudian ia menuliskan untuk mereka (sebuah catatan) untuk dibawa ke Basrah dan Kufah sehingga mereka dapat mengambil uang dirham mereka disana. ‘Atha’ berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu tentang uang dirham yang diambil dari para pedagang (yang diganti dengan sebuah catatan yang dapat ditukar kembali). Ibnu Abbas menjawab: Tidak mengapa sepanjang tidak dipersyaratkan.

As-Sarakhsi menjelaskan bahwa maksud tidak dipersyaratkan adalah tidak dipersyaratkan adanya imbalan. Pendapat ini merupakan pendapat dari jumhur ulama terkait bolehnya suftajah dengan syarat tanpa imbalan.

Adapun batu mulia mulai banyak dikenal oleh kaum muslimin ketika mendapatkan banyak rampasan perang dari Kerajaan Persia. Selain sebagai perhiasan, batu mulia tersebut juga dimanfaatkan sebagai sarana pengaman dalam perjalanan jauh yang dilakukan oleh kaum muslimin saat itu.

Dalam buku Tarikh At-Tamaddun Al-Islami yang ditulis oleh Jarhi Zidan (1921) disebutkan:

“Banyak dari mereka (kaum muslimin) yang menggunakan batu-batu mulia sebagai ganti dari uang dalam jumlah yang besar apabila mereka hendak melakukan perjalanan panjang yang membutuhkan dana sebesar ribuan dinar misalnya. Maka sebagai ganti dari membawa uang emas dan perak, mereka membawa batu-batu mulia karena lebih mudah membawanya didalam kantong. Apabila telah sampai di negeri yang dituju, mereka menjual batu-batu permata itu (dengan dinar/dirham) kemudian membelanjakannya sebagaimana orang-orang saat ini.” (At-Tarikh At-Tamaddun Jilid 5 Hal. 128).

Oleh Ardiansyah Rakhmadi

Artikel ardiansyahrakhmadi.com