Jika kita dihadapkan kepada dua pilihan antara membeli rumah dengan cara mencicil (dengan akad jual beli tangguh bukan pinjaman berbunga) atau menyewa, manakah yang akan kita pilih? Apa yang harus menjadi dasar pertimbangan kita?

Apabila kita kembalikan kepada dasar syariahnya, maka jawabannya adalah kita harus memilih mana yang paling besar mashlahatnya untuk kita dari keduanya.

Secara bahasa, mashlahat atau mashlahah merupakan lawan dari mafsadah, yaitu sesuatu yang menyebabkan kerusakan. Secara istilah, Al-Ghazali mendefinisikan mashlahah sebagai penjagaan terhadap tujuan syariat. Menurut Al-Ghazali tujuan yang ditetapkan oleh syariat dari setiap perbuatan manusia tidak boleh lepas dari 5 tujuan: 1) Menjaga agama 2) Menjaga jiwa 3) Menjaga akal 4) Menjaga keturunan 5) Menjaga harta (Al-Mustashfa lil Ghazali).

Ibnu Taimiyah mendefinisikan mashlahah sebagai manfaat yang paling kuat dan bukan merupakan sesuatu yang dilarang oleh syariat (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah).

Segala tindakan yang menimbulkan mafsadah atau mudharat (bahaya) maka dilarang untuk dilakukan.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri ataupun orang lain“.

Hadits diatas menunjukkan bahwa segala tindakan yang menimbulkan mafsadah atau mudharat maka dilarang untuk dilakukan.

Para sahabat Rasul menjadikan mashlahat sebagai salah satu dasar pertimbangan ketika mengambil sebuah keputusan. Hal inilah yang menyebabkan mengapa Umar bin Khattab mengusulkan kepada Abu Bakar untuk melakukan pengumpulan Al-Qur’an. Demikian pula Utsman bin ‘Affan ketika mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu standar mushaf. Kemudian Ali bin Abi Thalib memerintahkan Abu Al-Aswad Ad-Du ali untuk menyusun dasar-dasar ilmu Nahwu, dan contoh-contoh lainnya dalam sejarah.

Membeli sesuatu yang diperlukan dengan pembayaran secara cicilan hukumnya halal di dalam syariat. Demikian pula menyewa sesuatu yang dibutuhkan hukumnya juga halal.

Diriwayatkan dari Al-Bukhari dan Muslim:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اشْتَرَى طَعَامًا مِنْ يَهُودِيٍّ إِلَى أَجَلٍ وَرَهَنَهُ دِرْعًا مِنْ حَدِيدٍ

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membeli makanan dari seorang Yahudi dengan pembayaran yang ditangguhkan dan menggadaikan baju besinya.

Dalam hadis riwayat Ibn Majah dari Ibnu Umar, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَعْطُوا اْلأَجِيْرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ

“Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering.”

Maka ketika dihadapkan kepada dua pilihan yang halal, dasar yang dijadikan acuan untuk memilih adalah adanya mashlahat. Hendaknya kita memilih mana yang mashlahatnya paling besar diantara keduanya sehingga mashlahat antara satu orang dengan yang lainnya boleh jadi berbeda. Boleh jadi membeli rumah dengan pembayaran secara mencicil lebih mashlahat bagi seseorang daripada menyewa dan boleh jadi menyewa rumah lebih mashlahat bagi seseorang lainnya daripada membeli secara mencicil. Tergantung kondisi dari seseorang.

Yang jelas dilarang bagi kita untuk mengharamkan yang halal dan sebaliknya menghalalkan yang haram. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam surat An Nahl 116:

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ (116)

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.

Oleh: Ardiansyah Rakhmadi

Artikel ardiansyahrakhmadi.com