Lahan dakwah yang berkenaan dengan ekonomi syariah sesungguhnya sangatlah luas. Tentunya tidak cukup hanya berbicara tentang perbankan dan lembaga keuangan syariah lainnya saja. Tidak cukup kalau hanya berbicara tentang dinar dan dirham. Demikian pula tidak cukup jika kita hanya berbicara tentang properti atau mengenai dunia usaha para pengusaha muslim. Sebagaimana tidak cukup juga apabila hanya berbicara dalam level individu.

Maka alangkah ironinya kalau gerakan dakwah kita dalam masalah ekonomi syariah seperti halnya rantai makanan dimana satu pihak hanya sekedar menyalahkan pihak lainnya. Mengapa kita tidak memilih untuk bersikap yang produktif. Apa yang telah kita capai dengan baik hingga hari ini dalam tataran manapun dalam bidang ekonomi syariah, mari kita pertahankan. Apa yang masih kurang dan salah, bisa kita perbaiki bersama. Dan bukankah memang kewajiban antara seorang muslim dengan muslim lainnya adalah saling nasehat menasehati dalam kebaikan. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Q.S. Al-‘Ashr:

وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣

“Demi masa (1). Sungguh, manusia berada dalam kerugian (2). kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran (3).”

Hendaknya kita lakukan hal tersebut diatas dalam kerangka yang positif dan membangun. Bukan seperti yang Allah perumpamakan dalam surat An-Nahl ayat 92:

وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِن بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَاثًا

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.” (QS. An Nahl: 92)