Abu Hurairah berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallama bersabda, ”Sesungguhnya pemimpin itu adalah perisai. Orang-orang berperang bersamanya di belakangnya dan melindunginya. Jika pemimpin itu memerintahkan untuk bertakwa kepada Allah dan berlaku adil, maka ia mendapatkan pahala karenanya. Namun, jika ia menyuruh untuk yang selain itu, maka ia mendapatkan dosanya.”” (HR. Muslim)

Salah satu perbedaan antara bank syariah dengan bank konvensional terletak pada landasan hukum yang mengikatnya. Di dalam operasionalnya, bank syariah harus mengimplementasikan ketentuan-ketentuan syariah secara benar. Beberapa faktor yang  dapat menunjang keberhasilan bank syariah dalam mengimplementasikan ketentuan-ketentuan syariah pada operasionalnya adalah sebagai berikut:

  1. Kesadaran dan Komitmen Pemegang Saham

Adanya kesadaran dan komitmen dari pemegang saham adalah kunci utama yang mendorong keberhasilan manajemen bank syariah untuk dapat menjalankan usahanya sesuai dengan syariat Islam. Ketika pemegang saham memiliki kesadaran dan komitmen yang tinggi terhadap penerapan syariat Islam dalam operasional bank syariah yang didirikannya, maka bisa dipastikan bahwa pemegang saham tidak akan memilih manajemen bank syariah yang tidak memiliki kesadaran dan komitmen yang sama.

Kesadaran dan komitmen pemegang saham akan menjadi sinergi tersendiri terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh manajemen bank syariah dalam menjalankan roda bisnisnya. Tatkala pemegang saham hanya menginginkan performa bank syariah yang didirikannya berorientasi pada target angka semata-mata, maka pemegang saham akan memilih orang-orang yang mempunyai orientasi yang sama untuk duduk di jajaran manajemen sebagai direksi.

Oleh karena itu sudah menjadi fenomena yang lazim terjadi di sebuah perusahaan apabila terjadi perubahan pada susunan pemegang saham mayoritas, maka perubahan tersebut akan mempengaruhi  susunan dan kebijakan dari direksi yang memimpin yang pada akhirnya berdampak pula pada susunan manajemen dan kebijakan yang berada di level berikutnya.

2.  Kesadaran dan Komitmen Manajemen Bank Syariah

Manajemen bank syariah laksana nahkoda yang mengendalikan serta menentukan arah berlayar dari sebuah kapal, dimana semua keputusan yang terkait dengan kapal saat berlayar harus mendapatkan persetujuan darinya. Sebaik apapun awak kapal yang dimiliki, ketika ide dan gagasan mereka tidak didukung oleh sang nahkoda, maka ide ataupun gagasan dari para awak kapal tidak akan pernah terlaksana. Artinya, sebaik apapun produk atau program yang telah dirancang oleh bagian-bagian yang berkaitan, tidak akan pernah terlaksana apabila tidak disetujui oleh manajemen.

Ketika manajemen bank syariah tidak mempunyai kesadaran dan komitmen yang baik dalam penerapan ketentuan syariah, maka boleh jadi kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh bank syariah tersebut justru bisa bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah itu sendiri.

Dengan tidak adanya komitmen syariah yang baik pada sisi manajemen, akan mempengaruhi pula tingkat keharmonisan hubungan dengan Dewan Pengawas Syariah  (DPS) sebagai pihak yang bertugas mengawasi pelaksanaan aspek-aspek syariah di bank syariah. Dampaknya ialah sikap manajemen menjadi bersifat tertutup terhadap Dewan Pengawas Syariah sehingga pengawasan yang dilakukan oleh Dewan Pengawas Syariah menjadi tidak efektif.

3. Ketersediaan SDM Yang Mumpuni

Kemampuan SDM

Produk-produk perbankan syariah, kalaupun secara konsep produk telah dirancang dan dibuat sesuai dengan fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) serta ketentuan yang dikeluarkan oleh DPS, harus dipasarkan pula oleh para marketing yang memahami konsep syariah pada produk yang ditawarkan secara benar. Karena jika para marketing bank-bank syariah tidak memahami konsep syariah pada produk yang ditawarkan secara benar, akan menimbulkan penyimpangan-penyimpangan dalam implementasinya di lapangan.

Salah satu tantangan terbesar bagi bank syariah ialah menanamkan paradigma yang berbeda kepada para karyawannya antara bank syariah dengan bank konvensional. Meski masih menyandang istilah “bank”, tetapi pada hakekatnya adalah tidak sama.

Menjalankan operasional bank syariah dengan paradigma bank konvensional akan mengakibatkan banyak ketentuan syariah tidak dapat berjalan dengan baik. Disinilah kemudian bank syariah membutuhkan SDM yang benar-benar mumpuni dan berparadigma dengan benar.

Misal, memasarkan produk pembiayaan musyarakah yang berpola bagi hasil tentu tidak bisa dengan cara yang sama ketika memasarkan produk murabahah yang berpola jual beli. Untuk produk musyarakah, seorang marketing harus bisa memberikan pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan pembiayaan yang berbasis pada bagi hasil. Kemudian marketing harus mampu memberikan simulasi kepada calon nasabah tentang perhitungan bagi hasil berikut dengan contoh cashflow. Termasuk diantaranya harus meminta kesediaan nasabah untuk memberikan laporan keuangan kepada bank setiap bulannya sebagai dasar perhitungan bagi hasil.

Sementara itu dalam memasarkan produk murabahah yang berbasis jual beli, seorang marketing harus mampu menjelaskan definisi pembiayaan murabahah dan langkah demi langkah bagaimana proses jual beli tersebut akan dilakukan antara bank dengan nasabah. Kemudian, setelah bank melakukan penjualan barang kepada nasabah, bank harus memastikan bahwa barang yang dijual diterima oleh nasabah dengan baik. Dalam hal ini bank bertindak layaknya sebuah toko yang menjual barang kepada konsumennya.

Bisakah dibayangkan bagaimana jika marketing memasarkan produk musyarakah dengan pola komunikasi yang sama  dengan ketika memasarkan produk murabahah? Demikian pula bisa dibayangkan bagaimana ketika bagian pengembangan produk suatu bank syariah mengembangkan produk murabahah yang mempunyai “rasa” musyarakah atau sebaliknya?

Akhlak Dan Etika

Selain memiliki kemampuan yang baik, SDM di perbankan syariah harus mempunyai akhlak dan etika yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Pegawai bank syariah yang tidak memiliki akhlak dan etika yang Islami, cenderung akan mengabaikan dan bersikap acuh tak acuh terhadap kesesuaian bank dengan ketentuan syariat Islam.

4. Prosedur Pelaksanaan Operasional dan Bisnis Yang Lengkap Dan Detil

Prosedur pelaksanaan operasional dan bisnis yang tidak lengkap dan detil, cenderung mengakibatkan terjadinya banyak kesalahan dalam implementasinya.

5. Sistem Dan Teknologi Yang Mendukung

Sistem dan teknologi pendukung harus dipastikan dapat menunjang pelaksanaan transaksi-transaksi perbankan yang sesuai dengan prinsip syariah. Oleh sebab itu, hal pertama yang perlu dipastikan saat melakukan development pada sistem dan teknologi yang dipergunakan dalam bank syariah ialah bahwa bank syariah harus memastikan, sistem dan teknologi yang dipilih dapat menutupi kebutuhan-kebutuhan bank syariah dalam pelaksanaan transaksinya yang harus sesuai dengan ketentuan syariah termasuk pada sisi pencatatan akuntansi.

Secanggih apapun sistem dan teknologi yang dibeli oleh bank syariah, menjadi tidak berguna apabila pada kenyataannya sistem dan teknologi tersebut tidak bisa mencatat transaksi-transaksi berdasarkan akad yang digunakan oleh bank syariah.

 6. Struktur Organisasi Yang Memadai

Struktur organisasi adalah kerangka pembagian kerja dan bentuk alur koordinasi, komunikasi, alur kerja dan  pembagian kewenangan yang menentukan jalannya aktivitas sebuah organisasi (McShane & Glinow V, 2009).

Sesuai definisi diatas, bentuk dari struktur organisasi suatu perusahaan akan menentukan apakah perusahaan tersebut dapat melakukan hal-hal yang menjadi misi utamanya atau tidak. Sehingga masing-masing perusahaan tentu memiliki struktur organisasi yang berbeda-beda sesuai misi utama yang diembannya.

Hal ini berlaku pula untuk bank syariah. Bank syariah berbeda dengan bank konvensional. Walaupun keduanya sama-sama merupakan lembaga keuangan, tetapi keduanya berbeda. Keduanya berbeda secara filosofis dan berbeda hingga dalam tataran operasionalnya. Oleh karena itu tidak mungkin seseorang mengelola bank syariah seperti layaknya bank konvensional.

Bank syariah bukanlah seperti bank sebagaimana biasanya. Bank syariah merupakan lembaga keuangan yang beroperasional berdasarkan prinsip-prinsip sektor riil. Untuk memproduktifkan dana-dana yang telah ia terima dari para nasabah, bank syariah harus melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi di sektor riil seperti berjual beli, penyewaan aset, penjualan jasa dan melakukan kegiatan investasi dengan prinsip bagi hasil.

Tentu hal tersebut bukanlah hal yang mudah. Selain harus ditangani oleh SDM yang memadai, Bank syariah harus didukung oleh struktur organisasi yang memadai pula, khususnya di tingkat unit-unit bisnisnya. Jika struktur organisasi tidak mendukung, banyak kendala yang akan dihadapi oleh bank syariah.

Misal, mengapa banyak bank syariah yang  menemui kendala dalam pelaksanaan transaksi pembiayaan jual beli murabahah dengan para nasabahnya. Diantara masalahnya adalah karena secara struktur organisasinya, unit bisnis atau yang sering kita kenal dengan istilah kantor cabang seringkali tidak memiliki bagian khusus yang berfungsi untuk melakukan pembelian barang dari suplier. Pekerjaan pembelian ini biasanya dirangkap oleh si marketing sendiri. Selain itu, bank tidak mempunyai bagian khusus yang mengatur tentang manajemen suplier.  Sebab lazimnya, struktur organisasi di kantor cabang pada bank syariah dibuat tidak berbeda jauh dengan struktur organisasi di unit bisnis atau kantor cabang pada bank konvensional.

Ketiadaan bagian khusus yang menangani pengadaan aset murabahah termasuk mengatur pengelolaan aset murabahah tersebut pada akhirnya dapat menjadikan bank syariah tidak mampu melakukan transaksi jual beli sebagaimana yang seharusnya dilakukan sesuai fatwa dan ketentuan syariah terkait jual beli secara umum.

Oleh: Ardiansyah Rakhmadi

Artikel ardiansyahrakhmadi.com